Jumat, Juni 12, 2009

Saatnya temukan hair stylish terbaik?


11 Juni 2009, lebih dari seabad setelah titik bersejarah bagi bangsa Indonesia yang disebut-sebut sebagai “Kebangkitan Bangsa”, di sebuah surat kabar ibu kota terbit saya masih menemukan kesalahan akibat ketidakmampuan membedakan kata benda dan kata sifat dalam bahasa Inggris, bahasa kedua yang diajarkan di sekolah setelah bahasa Indonesia – setidaknya di Jakarta bahasa kedua. Kalo di daerah ya bahasa ketiga, setelah bahasa daerah itu sendiri, mungkin. Saya nggak pernah sekolah di luar wilayah Jakarta, sih.
FATAL. Kesalahan gramatikal mendasar yang sebetulnya tidak perlu dilakukan jika seseorang lebih teliti dalam menulis (baca: nggak asal!).
Berikut cuplikan artikel dari harian ber-tagline “Sumber Referensi Terpercaya” yang dimaksud:
Stylish adalah kata sifat, adjektiva, yang berfungsi menjelaskan kondisi “dengan style (dengan gaya)” dari kata benda yang diacu, dalam kasus ini hair; hair stylish berarti artinya rambut yang gaya. Lagian hair stylish juga salah, harusnya stylish hair. Saya mengerti, maksudnya Anda hendak menulis stylist, kata benda, dimana sufiks –ist mengindikasikan makna “pelaku, orang yang melakukan”; hair stylist artinya penata rambut, kan?

Pelajaran : harus lebih teliti.

Rabu, April 22, 2009

Kotak Gender

Selalu ada yang menarik di kuliah Kesusastraan Prancis dan Filsafat. Mempelajari tentang pemikiran filsuf-filsuf besar Prancis memang cukup menarik, jika berlebihan untuk dibilang mengagumkan.
Hari ini, sehari setelah peringatan Hari Kartini di seluruh negri, di kelas kami mempelajari tentang pemikiran Simone de Beauvoir, seorang filsuf wanita besar yang lebih dikenal sebagai kekasih Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis (lebih) besar lainnya.
Pemikirannya de Beauvoir yang dibahas tadi adalah L’EMANCIPATION (Emansipasi). Dari judulnya saja sudah terlihat pesannya. Emansipasi. Sesuatu yang seirng kali dikumandangkan di negri ini apalagi di masa-masa Hari Kartini macam sekarang.
Dalam L’EMANCIPATION de Beauvoir menyebutkan « (Il est peu d’hommes) pour souhaiter du fond du coeur que la femme achève de s’accomplir ; ceux qui la méprisent ne voient pas ce qu’ils auraient à y gagner, ceux qui la chérissent voient trop ce qu’ils ont à y perdre ... » Yang intinya, sedikit pria mengakui kekuatan wanita karena takut privileges mereka sebagai “pemimpin dunia” akan hilang.
Lalu berkembang diskusi di dalam kelas : benarkah hanya pria yang takut kehilangan hak-hak istimewanya atas wanita jika kekuatan wanita dibiarkan berkembang? Hampir dalam seluruh budaya di dunia, wanita selalu diposisikan di bawah lelaki. Tugasnya adalah mengurus anak dan rumah tangga sementara si pria mencari nafkah dan menaklukan dunia. Bersamaan dengan hak-hak pria untuk mengepakkan sayap mereka dan terbang tinggi, terdapat beban yang tak kalah besarnya : ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin dan beresiko jatuh dari ketinggian.
Keadaan ini kemudian membuat wanita merasa nyaman dengan apa yang dimilikinya, karena ia hanya perlu menunggu pemimpinnya datang membawakan padanya segala yang telah berhasil didapatkan oleh si pria tersebut. Posisi pemberi-penerima seperti ini akhirnya membuat wanita akhirnya bersedia di“bawahi” oleh pria, antara lain dengan bersedia mengganti identitas dengan menggunakan nama suami atau nama keluarga suami, dan untuk wanita Indonesia ada satu pilihan lagi untuk mengganti namanya : dengan menggunakan nama anak. Seperti waktu gw kecil, banyak kan yang memanggil nyokap gw dengan “Mamanya Ayi”. Bukankah ini berarti secara tidak langsung si wanita juga mengakui diskriminasi gender itu sendiri? Nama, loh. Identitas seorang individu yang paling mendasar, yang paling membedakan diri sendiri dari orang lain.
Jaman berubah. Kehidupan tradisional buru-memburu sudah ditinggalkan. Meskipun sudah tidak mengherankan lagi melihat wanita berkeliaran di mana-mana, bekerja, mengeksiskan diri di dunia, menghidupi dirinya sendiri, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap terdapat pengkotak-kotakan gender di sekeliling kita. Gender, atau identitas seksual, bukan sex yang adalah jenis kelamin. Kalau jenis kelamin memang sudah ditetapkan sejak lahir (meskipun kemudian ada beberapa individu yang tidak puas dan memilih untuk transgender), namun gender adalah hasil bentukan masyarakat, konsensus tak tertulis yang berlaku di sebuah komunitas.
Lihat saja bayi yang baru lahir. Apa warna pakaian dan asesoris yang dipakaikan oleh ibunya? Jika pink, (PASTI) berarti bayi perempuan; jika biru adalah laki-laki. Jika si bayi mengenakan warna-warna netral, berarti si ibu seorang feminis. Beruntunglah si bayi karena tidak terjebak dalam “kotak-kotak gender”...

Kamis, April 16, 2009

Guru Pipis Berdiri, Murid Menari-nari..

Hmm.. mungkin kalian agak nggak asing lagi dengan kalimat judul posting ini. Well, sebenarnya itu adalah jeu de mot (plesetan) dari peribahasa Indonesia, "guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Tapi, karena gw merasa kata "kencing" agak kasar, jadi gw ganti dengan kata yang lebih imut, "pipis".
(mungkin) Kita semua menyetujui bahwa cara yang paling tepat untuk membentuk sebuah bangsa yang kuat adalah dengan pendidikan yang baik bagi manusianya ; dan cara yang paling tepat dalam mendidik seorang individu adalah dengan memberikannya teladan, memberi contoh yang baik, bukan hanya memberi perintah.
Tapi, apa jadinya kalau mereka yang seharusnya memberi contoh yang baik itu malah melakukan hal-hal yang sama sekali nggak pantas untuk ditiru? Haruskah mereka yang diberi contoh tetap menelannya mentah-mentah?
Baiklah, akan saya berikan contoh untuk lebih jelasnya.
Di jurusan tempat saya berkuliah, para dosen sangat disiplin, tepat waktu, berdedikasi tinggi (baca: jarang nggak masuk, nggak masuk pun pasti ada dosen pengganti), dan (sedikit) perfeksionis. Menyadari karakter mereka seperti ini, mahasiswa pun menjadi menuntut diri mereka sendiri untuk lebih disiplin, selalu tepat waktu, selalu mengerjakan tugas, dan sebagainya, dan sebagainya yang disiplin2.
Nah, baru-baru ini kami ikut mata kuliah dari jurusan lain yang dosennya nggak se-strict dosen kami biasanya. Masuk setengah jam setelah bel masuk, tidak memedulikan absen, sehingga mahasiswa jadi doyan nitip absen. Bukannya si dosen ini nggak tau fenomena ini, mereka nggak memedulikannya, loh. Buat mereka nggak masalah hadir beneran atau nitip absen doang. Dan yang paling gokil, tugas bisa ditunda, bo! Bahkan ada temen gw yang belum ngumpulin tugas pertama yang seharusnya udah dikumpulin sejak SEBULAN yang lalu! Kalo ama dosen jurusan sendiri sih nggak ada tuh ceritanya yang kayak begini. Langsung disemprot, iya.
Dari dua contoh di atas terlihat kan bahwa sikap seseorang akan mempengaruhi bagaimana orang lain bersikap pada mereka. Tentunya kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan, “Ah, santai aja, paling juga ntar dia telat.” Atau “Ya udah lah, dia juga nyantai aja kok.” Kalau seseorang suka menyepelekan sesuatu, maka orang lain akan balik menyepelekannya.
Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Namun seharusnya kalimat ini tidak dijadikan pembenaran atas “kesalahan-kesalahan yang tidak perlu”. Semangat kekeluargaan dan toleransi memang baik, tapi tidak bisa diterapkan di semua bidang, terutama di bidang2 yang menuntut profesionalisme dan tanggung jawab; salah satunya di institusi pendidikan seperti ini. Kalau para pendidik tidak menegakkan disiplin, ya mereka yang dididik akan leha-leha seenak-enak jidatnya aja. Kalau mereka yang dididik ini udah nggak aware lagi, lantas seperti apakah kelakuan mereka nanti saat harus melangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara? Bukannya nggak mungkin Indonesia akan tambah terpuruk karena hal ini, bukan?

Sabtu, Maret 21, 2009

Seimbang dan Harmonis

Wise man once said “..too much love will kill you”.
Sejak lama gw merasa sudah cukup mengerti makna dari kalimat ini. Namun, baru akhir-akhir ini gw lebih memahami arti di dalamnya.
I experienced it myself.
Berada di samping orang-orang terdekat kita, menghabiskan waktu bersama mereka, kadang membuat kita merasa terlalu terikat dengan mereka.
Sayang, gw melupakan kata-kata si orang bijak itu. Memang benar bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak akan pernah baik hasilnya.
Kali ini, gw sangat belajar untuk tidak “terlalu-terlalu” lagi : terlalu dekat dengan seseorang, terlalu mendengarkan pendapat orang, terlalu takut untuk sendiri, terlalu memikirkan sesuatu, terlalu banyak bersama orang yang itu-itu aja, terlalu cuek dengan lingkungan sekitar...
Hidup seimbang dan harmonis. Seimbang antara mimpi dan usaha. Harmonis dengan apa pun dan siapa pun.

Sabtu, November 08, 2008

Kemana ya?

Minggu kemarin, 2 november 08 (sehari setelah si Roi ulang tahun ke 20 – cieee... JOYEUX ANNIVERSAIRES ya Roi..), ada acara European Higher Education Fair di Balai Kartini. Anyway, ternyata Balai Kartini sudah sangat berubah sekali ya.. Terakhir gw kesana perasaan gak gitu bentuknya. Sekarang desainnya jadi lebih modern-elegan gimana gitu. Huhu..
Jadi EHEF-nya bukan di gedung Balai Kartininya (yg biasa dipake buat resepsi nikah. Hhe..), tapi sebuah gedung yg mirip semacem hanggar dibelakangnya, yang tempatnya gak asoy banget – gak sesuai ama tema event ini. Tapi yaudah lah ya, toh gw disana juga untuk mengunjungi booth2 universitas2 di Eropa dan mendapatkan informasi tentang kuliah disana, bukan Cuma menikmati bentuk gedungnya doang.
Ternyataa oh ternyata... informasi yg gw dapet gak terlalu membantu gw juga. Kebanyakan orang2 universitas2 itu Cuma ngasih informasi yg bisa gw dapet dari website – yah, selain gw dikasih beberapa flyers dan buku atau CD yg isinya informasi yg itu2 aja. Yaudah, gitu doang. Seminar yang diadain juga gitu2 doang. Udah ketauan lah kira2 intinya apa : presentasi institusi yg bersangkutan, kondisi umum di sana, persyaratannya apa aja.. terus sesi tanya jawab, yg pertanyaannya mirip2. Ah.. ketebak.
Lebih parah lagi.... ruang seminarnya bau. Kaya’nya sih karpetnya agak basah gitu. Jadi baunya gak enak banget. Serta sumpek pula! Langit2nya terlalu rendah dan lampu yg dipasang berlebihan. AC-nya juga gak nyebar ke seluruh ruangan kecil itu. Ughh...
Oia, sekarang negara2 di Eropa udah gak seloyal dulu lagi dalam memberikan beasiswa – dampak krisis ekonomi global juga, sih. Jadi, persaingan makin ketat. Dari info yg gw dapet, salah satu negara yg masih loyal ngasih beasiswa adalah Belanda. Mungkin karena tanggung jawab moril mereka terhadap bangsa kita yang udah mereka jajah selama kurang lebih ½ abad? Haha.. Mungkin juga itu kenapa Belanda adalah negara yg paling ramah dalam menyambut pengunjung di stand2 mereka. FYI, negara yg paling enggak ramah adalah nggak lain dan nggak bukan, Prancis. Kata temen gw sih gitu. Doi ngalamin sendiri pas datengin booth Université Paris Sorbonne VIII pas gw belom dateng. Katanya bule yg dia ajak ngomong – dalam bahasa Prancis – jutek banget nanggepinnya. Huhuu... Français! Untung gw gak ikutan. Hahha.. (masa’ dikampus udah dijutekin, eh di luar kampus juga dijutekin si..?! *oops....*)
Akan tetapi....
Dengan mengunjungi pameran ini, Tuhan kaya’ sekali lagi ‘menyentil’ gw supaya gw segera menentukan pilihan. Jadi pas nanya2 info ttg kuliah sama mbak2 dan mas2 bule di booth2 itu, mereka kan biasanya nanya jurusan apa yg bakal kita masuki. Dua temen gw, si Ejoi ama Roi dengan mantap memilih jurusannya masing2 yg merupakan passion mereka – Ejoi media dan komunikasi, Roi gak jauh2 dari dunia fotografi dan fashion. Sementara gw...?!
Gw bahkan masih bingung mau jadi apa gw nanti. Semua bidang yg dijejerkan dibagian ilmu2 sosial nampak sama menariknya buat gw. Terus gw bingung deh mau ambil yg mana. Gw suka dunia media-komunikasi, tapi gw juga suka budaya, macam antropologi gitu. Tapi sejarah juga gw suka. Apalagi kalo sejarahnya dikaitkan dengan Visual Art. Namun akhir2 ini gw juga lagi demen merhatiin politik – berhubung TV kita lagi gencar2nya memberitakan hal2 berbau pemilu, baik pemilihan presiden sendiri maupun presiden orang (AS).
Seperti yg Roi bilang sendiri beberapa waktu lalu, tahun2 pertengahan dalam kuliah (macam yg gw jalanin sekarang ini) emang tahun2 paling nyiksa. Bukan cuma kuliah. Semua hal yg sedang berproses, kadang emang menimbulkan kelelahan dan kejenuhan bagi yg menjalaninya. Roi mengibaratkan, kita ini lagi masuk ke sebuah terowongan dan sudah sampe di tengahnya. Kita belum liat seberkas cahaya apa pun yg menunjukkan kita udah hampir di "tujuan" kita, yg ada di depan terowongan itu. Rasanya lelah dan jemu banget, sehingga terbersit keinginan untuk balik lagi keluar.
Namun bahkan, gw gak bisa mengidentifikasi dunia macam apakah yg ada di depan terowongan gelap yg sedang gw jalani ini...
Ada yg bilang, santai aja. NANTI juga ketauan kemana arah hidup lo.
Ada yg bisa bantuin gw mempresisikan NANTI itu tepatnya kapan..?
Hiks... ;_;

Kamis, Oktober 30, 2008

Bêtisse part deux

Tout d’abord, je m’excuse d’avoir abandonné un peu ce blog ; a cause des examens et aussi le “ini si asi”.
Hhe

Oke,, oke maaf. Jangan nyureng2 gitu dong. Gw lupa,, ga semua orang bisa bahasa Prancis.
Oops... ;P

Jadi, judul di atas artinya “Kejadian memalukan bagian kedua”. Sedangkan kalimat pengantar tadi artinya “Sebelumnya gw minta maap karena udah jarang ngupdate blog ini, karena ujian2 gw kemaren dan juga si acara [i] itu.”

Posting terakhir gw hanya berupa lirik lagunya Destiny’s Child yang Emotion. To be honest, saat itu theme song gw emang itu.

It’s over and done but the heartache lives on inside...

Tapi sekarang udah enggak lagi. Now that i’m healed, i’m already moved on, ready to face the world and i’m gonna get you all!! Hahhaha... (bunch of gratefulness for having such bestest friends around me – those who always stay beside me and push me upward everytime i’m down.. Thank u guys..)

Dan sekarang gw kembali bersemangat untuk menulis. Inilah salah satu pertanda gw sudah kembali “hidup” : kembali senang ber-eksis-ria di dunia manapun. Hoho..

Sebenernya kemaren2 banyak banget cerita yang bisa gw post untuk jadi bahan pelajaran bagi kita semua, namun apa daya, antusiasme menulis itu tak kunjung tiba dan akhirnya gw membiarkan semua itu berlalu dan terlupakan tanpa bekas.

Tapi hari ini......

Siang tadi adalah kamis siang seperti biasa di kampus. Kemarin sore hingga tadi malam hujan turun namun sejak pagi tadi matahari cukup menyengat menjadikan udara jadi lembab-lembab panas gimanaaa..gitu.

Oke. Gak penting.

Jadi, selesai matakul KBP V gw dan kawan2 segera meluncur ke kansas, the fabulous KANtin SAStra. Waktu masih menunjukkan pukul 11.30 tapi gw udah laper jadi gw langsung pesen makanan. Sementara temen gw nggak.
Selesai makan, gw dengerin radio di handphone sementara temen2 gw ngebahas eksekusi mati Amrozi, Imam Samudra, yah para pelaku bom bali itu lah. Gw sebenernya tertarik ama topik yang lagi mereka omongin namun berhubung hati sedang gak terlalu mood buat ngomong, gw dengerin lagu aja.
Jam 12an, kansas udah mulai penuh. Temen gw juga lagi nunggu pesenan makannya dateng. Mata si temen gw ini langsung berbinar begitu melihat sesosok mas2 berbaju kuning membawa sepiring sate kambing dan sepiring nasi. Dia nanya ke gw, “itu mas2 sate bukan sih?”.
Gw yang jarang beli sate, makanya nggak hafal muka mas2 yang jualan sate, pun ngejawab, “iya kali. Sate kambing kan?”. Temen gw ngangguk tapi mukenye gak yakin. Kalo gw sih yakin dengan penglihatan gw – yang langsung ngejudge cowok itu tukang sate karena mukanya berpotongan abang2 tukang sate di kansas. Dan si mas2 ini agak celingak celinguk di tengah keramaian kansas, persis kayak abang2 jualan nganterin pesenan orang dan lagi nyari yang mana orangnya.
Maka, gw pun dengan lantang berteriak, “Mas mas!! SATEE..!”
Dan doi nampak seperti ngeliat ke arah gw tapi gak nyamperin gw.
Maka gw pun berteriak lebih kencang lagi. “SATEEE..!! MAS! MAS! SATEE!! SINI SINI..!”
Alhasil doi pun ngeliat ke arah gw. Tapi karena gak nyamperin ke arah meja gw juga, gw berteriak dengan lebih napsu lagi, “MAS SATE!! SINI!!”
Dan dengan muka nyolot si mas itu pun bilang “PUNYA GUE!!!”

Hah..

JADI TERNYATA, DIA MAHASISWA, BUKAN TUKANG SATE!!!

Anjroooooooooot....

Bisa gak sih lo bayangin gimana malunya gw saat itu..??
MALU TIADA TERPERI. Rasanya pengen ngilang dari kansas.
Huaaaah... tolol banget gw.

Dan temen gw semeja cuma pada ketawa2 doang.. padahal mereka kan punya andil dalam kesalahan TOLOL gw ini. Dan ternyata, salah satu temen gw udah bilangin gw saat gw manggil2 tuh “mas sate”, bahwa doi bukan tukang sate. Tapi saking napsunya gw manggil dia, dan karena kuping gw tersumbat earphone, usaha temen gw itu pun jadi sia-sia.

Shit.

Jumat, September 19, 2008

emotion..

(Destiny's Child's)

It's over and done
But the heartache lives on inside
And who's the one you're clinging to
Instead of me tonight?

And where are you now, now that I need you?
Tears on my pillow wherever you go
I'll cry me a river that leads to your ocean
You'll never see me fall apart

In the words of a broken heart
It's just emotion taking me over
Caught up in sorrow
Lost in the song
But if you don't come back
Come home to me, darling
Don't you know there's nobody left in this world to hold me tight?
Don't you know there's nobody left in this world to kiss goodnight
Goodnight, goodnight

I'm there at your side,
I'm part of all the things you are
But you've got a part of someone else
You've got to find your shining star

And where are you now, now that I need you?
Tears on my pillow wherever you go
I'll cry me a river that leads to your ocean
You'll never see me fall apart

In the words of a broken heart
It's just emotion taking me over
Caught up in sorrow
Lost in the song
But if you don't come back
Come home to me, darling
Don't you know there's nobody left in this world to hold me tight?
Don't you know there's nobody left in this world to kiss goodnight
Goodnight, goodnight

And where are you now, now that I need you?
Tears on my pillow wherever you go
I'll cry me a river that leads to your ocean
You'll never see me fall apart
In the words of a broken heart
It's just emotion taking me over
Caught up in sorrow
Lost in the song
But if you don't come back
Come home to me, darling
Don't you know there's nobody left in this world to hold me tight?
Don't you know there's nobody left in this world to kiss goodnight
Goodnight, goodnight