Selalu ada yang menarik di kuliah Kesusastraan Prancis dan Filsafat. Mempelajari tentang pemikiran filsuf-filsuf besar Prancis memang cukup menarik, jika berlebihan untuk dibilang mengagumkan.
Hari ini, sehari setelah peringatan Hari Kartini di seluruh negri, di kelas kami mempelajari tentang pemikiran Simone de Beauvoir, seorang filsuf wanita besar yang lebih dikenal sebagai kekasih Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis (lebih) besar lainnya.
Pemikirannya de Beauvoir yang dibahas tadi adalah L’EMANCIPATION (Emansipasi). Dari judulnya saja sudah terlihat pesannya. Emansipasi. Sesuatu yang seirng kali dikumandangkan di negri ini apalagi di masa-masa Hari Kartini macam sekarang.
Dalam L’EMANCIPATION de Beauvoir menyebutkan « (Il est peu d’hommes) pour souhaiter du fond du coeur que la femme achève de s’accomplir ; ceux qui la méprisent ne voient pas ce qu’ils auraient à y gagner, ceux qui la chérissent voient trop ce qu’ils ont à y perdre ... » Yang intinya, sedikit pria mengakui kekuatan wanita karena takut privileges mereka sebagai “pemimpin dunia” akan hilang.
Lalu berkembang diskusi di dalam kelas : benarkah hanya pria yang takut kehilangan hak-hak istimewanya atas wanita jika kekuatan wanita dibiarkan berkembang? Hampir dalam seluruh budaya di dunia, wanita selalu diposisikan di bawah lelaki. Tugasnya adalah mengurus anak dan rumah tangga sementara si pria mencari nafkah dan menaklukan dunia. Bersamaan dengan hak-hak pria untuk mengepakkan sayap mereka dan terbang tinggi, terdapat beban yang tak kalah besarnya : ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin dan beresiko jatuh dari ketinggian.
Keadaan ini kemudian membuat wanita merasa nyaman dengan apa yang dimilikinya, karena ia hanya perlu menunggu pemimpinnya datang membawakan padanya segala yang telah berhasil didapatkan oleh si pria tersebut. Posisi pemberi-penerima seperti ini akhirnya membuat wanita akhirnya bersedia di“bawahi” oleh pria, antara lain dengan bersedia mengganti identitas dengan menggunakan nama suami atau nama keluarga suami, dan untuk wanita Indonesia ada satu pilihan lagi untuk mengganti namanya : dengan menggunakan nama anak. Seperti waktu gw kecil, banyak kan yang memanggil nyokap gw dengan “Mamanya Ayi”. Bukankah ini berarti secara tidak langsung si wanita juga mengakui diskriminasi gender itu sendiri? Nama, loh. Identitas seorang individu yang paling mendasar, yang paling membedakan diri sendiri dari orang lain.
Jaman berubah. Kehidupan tradisional buru-memburu sudah ditinggalkan. Meskipun sudah tidak mengherankan lagi melihat wanita berkeliaran di mana-mana, bekerja, mengeksiskan diri di dunia, menghidupi dirinya sendiri, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap terdapat pengkotak-kotakan gender di sekeliling kita. Gender, atau identitas seksual, bukan sex yang adalah jenis kelamin. Kalau jenis kelamin memang sudah ditetapkan sejak lahir (meskipun kemudian ada beberapa individu yang tidak puas dan memilih untuk transgender), namun gender adalah hasil bentukan masyarakat, konsensus tak tertulis yang berlaku di sebuah komunitas.
Lihat saja bayi yang baru lahir. Apa warna pakaian dan asesoris yang dipakaikan oleh ibunya? Jika pink, (PASTI) berarti bayi perempuan; jika biru adalah laki-laki. Jika si bayi mengenakan warna-warna netral, berarti si ibu seorang feminis. Beruntunglah si bayi karena tidak terjebak dalam “kotak-kotak gender”...
Hari ini, sehari setelah peringatan Hari Kartini di seluruh negri, di kelas kami mempelajari tentang pemikiran Simone de Beauvoir, seorang filsuf wanita besar yang lebih dikenal sebagai kekasih Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis (lebih) besar lainnya.
Pemikirannya de Beauvoir yang dibahas tadi adalah L’EMANCIPATION (Emansipasi). Dari judulnya saja sudah terlihat pesannya. Emansipasi. Sesuatu yang seirng kali dikumandangkan di negri ini apalagi di masa-masa Hari Kartini macam sekarang.
Dalam L’EMANCIPATION de Beauvoir menyebutkan « (Il est peu d’hommes) pour souhaiter du fond du coeur que la femme achève de s’accomplir ; ceux qui la méprisent ne voient pas ce qu’ils auraient à y gagner, ceux qui la chérissent voient trop ce qu’ils ont à y perdre ... » Yang intinya, sedikit pria mengakui kekuatan wanita karena takut privileges mereka sebagai “pemimpin dunia” akan hilang.
Lalu berkembang diskusi di dalam kelas : benarkah hanya pria yang takut kehilangan hak-hak istimewanya atas wanita jika kekuatan wanita dibiarkan berkembang? Hampir dalam seluruh budaya di dunia, wanita selalu diposisikan di bawah lelaki. Tugasnya adalah mengurus anak dan rumah tangga sementara si pria mencari nafkah dan menaklukan dunia. Bersamaan dengan hak-hak pria untuk mengepakkan sayap mereka dan terbang tinggi, terdapat beban yang tak kalah besarnya : ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin dan beresiko jatuh dari ketinggian.
Keadaan ini kemudian membuat wanita merasa nyaman dengan apa yang dimilikinya, karena ia hanya perlu menunggu pemimpinnya datang membawakan padanya segala yang telah berhasil didapatkan oleh si pria tersebut. Posisi pemberi-penerima seperti ini akhirnya membuat wanita akhirnya bersedia di“bawahi” oleh pria, antara lain dengan bersedia mengganti identitas dengan menggunakan nama suami atau nama keluarga suami, dan untuk wanita Indonesia ada satu pilihan lagi untuk mengganti namanya : dengan menggunakan nama anak. Seperti waktu gw kecil, banyak kan yang memanggil nyokap gw dengan “Mamanya Ayi”. Bukankah ini berarti secara tidak langsung si wanita juga mengakui diskriminasi gender itu sendiri? Nama, loh. Identitas seorang individu yang paling mendasar, yang paling membedakan diri sendiri dari orang lain.
Jaman berubah. Kehidupan tradisional buru-memburu sudah ditinggalkan. Meskipun sudah tidak mengherankan lagi melihat wanita berkeliaran di mana-mana, bekerja, mengeksiskan diri di dunia, menghidupi dirinya sendiri, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap terdapat pengkotak-kotakan gender di sekeliling kita. Gender, atau identitas seksual, bukan sex yang adalah jenis kelamin. Kalau jenis kelamin memang sudah ditetapkan sejak lahir (meskipun kemudian ada beberapa individu yang tidak puas dan memilih untuk transgender), namun gender adalah hasil bentukan masyarakat, konsensus tak tertulis yang berlaku di sebuah komunitas.
Lihat saja bayi yang baru lahir. Apa warna pakaian dan asesoris yang dipakaikan oleh ibunya? Jika pink, (PASTI) berarti bayi perempuan; jika biru adalah laki-laki. Jika si bayi mengenakan warna-warna netral, berarti si ibu seorang feminis. Beruntunglah si bayi karena tidak terjebak dalam “kotak-kotak gender”...
