Rabu, April 22, 2009

Kotak Gender

Selalu ada yang menarik di kuliah Kesusastraan Prancis dan Filsafat. Mempelajari tentang pemikiran filsuf-filsuf besar Prancis memang cukup menarik, jika berlebihan untuk dibilang mengagumkan.
Hari ini, sehari setelah peringatan Hari Kartini di seluruh negri, di kelas kami mempelajari tentang pemikiran Simone de Beauvoir, seorang filsuf wanita besar yang lebih dikenal sebagai kekasih Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Prancis (lebih) besar lainnya.
Pemikirannya de Beauvoir yang dibahas tadi adalah L’EMANCIPATION (Emansipasi). Dari judulnya saja sudah terlihat pesannya. Emansipasi. Sesuatu yang seirng kali dikumandangkan di negri ini apalagi di masa-masa Hari Kartini macam sekarang.
Dalam L’EMANCIPATION de Beauvoir menyebutkan « (Il est peu d’hommes) pour souhaiter du fond du coeur que la femme achève de s’accomplir ; ceux qui la méprisent ne voient pas ce qu’ils auraient à y gagner, ceux qui la chérissent voient trop ce qu’ils ont à y perdre ... » Yang intinya, sedikit pria mengakui kekuatan wanita karena takut privileges mereka sebagai “pemimpin dunia” akan hilang.
Lalu berkembang diskusi di dalam kelas : benarkah hanya pria yang takut kehilangan hak-hak istimewanya atas wanita jika kekuatan wanita dibiarkan berkembang? Hampir dalam seluruh budaya di dunia, wanita selalu diposisikan di bawah lelaki. Tugasnya adalah mengurus anak dan rumah tangga sementara si pria mencari nafkah dan menaklukan dunia. Bersamaan dengan hak-hak pria untuk mengepakkan sayap mereka dan terbang tinggi, terdapat beban yang tak kalah besarnya : ia memikul tanggung jawab sebagai pemimpin dan beresiko jatuh dari ketinggian.
Keadaan ini kemudian membuat wanita merasa nyaman dengan apa yang dimilikinya, karena ia hanya perlu menunggu pemimpinnya datang membawakan padanya segala yang telah berhasil didapatkan oleh si pria tersebut. Posisi pemberi-penerima seperti ini akhirnya membuat wanita akhirnya bersedia di“bawahi” oleh pria, antara lain dengan bersedia mengganti identitas dengan menggunakan nama suami atau nama keluarga suami, dan untuk wanita Indonesia ada satu pilihan lagi untuk mengganti namanya : dengan menggunakan nama anak. Seperti waktu gw kecil, banyak kan yang memanggil nyokap gw dengan “Mamanya Ayi”. Bukankah ini berarti secara tidak langsung si wanita juga mengakui diskriminasi gender itu sendiri? Nama, loh. Identitas seorang individu yang paling mendasar, yang paling membedakan diri sendiri dari orang lain.
Jaman berubah. Kehidupan tradisional buru-memburu sudah ditinggalkan. Meskipun sudah tidak mengherankan lagi melihat wanita berkeliaran di mana-mana, bekerja, mengeksiskan diri di dunia, menghidupi dirinya sendiri, namun tidak dapat dipungkiri bahwa tetap terdapat pengkotak-kotakan gender di sekeliling kita. Gender, atau identitas seksual, bukan sex yang adalah jenis kelamin. Kalau jenis kelamin memang sudah ditetapkan sejak lahir (meskipun kemudian ada beberapa individu yang tidak puas dan memilih untuk transgender), namun gender adalah hasil bentukan masyarakat, konsensus tak tertulis yang berlaku di sebuah komunitas.
Lihat saja bayi yang baru lahir. Apa warna pakaian dan asesoris yang dipakaikan oleh ibunya? Jika pink, (PASTI) berarti bayi perempuan; jika biru adalah laki-laki. Jika si bayi mengenakan warna-warna netral, berarti si ibu seorang feminis. Beruntunglah si bayi karena tidak terjebak dalam “kotak-kotak gender”...

Kamis, April 16, 2009

Guru Pipis Berdiri, Murid Menari-nari..

Hmm.. mungkin kalian agak nggak asing lagi dengan kalimat judul posting ini. Well, sebenarnya itu adalah jeu de mot (plesetan) dari peribahasa Indonesia, "guru kencing berdiri, murid kencing berlari". Tapi, karena gw merasa kata "kencing" agak kasar, jadi gw ganti dengan kata yang lebih imut, "pipis".
(mungkin) Kita semua menyetujui bahwa cara yang paling tepat untuk membentuk sebuah bangsa yang kuat adalah dengan pendidikan yang baik bagi manusianya ; dan cara yang paling tepat dalam mendidik seorang individu adalah dengan memberikannya teladan, memberi contoh yang baik, bukan hanya memberi perintah.
Tapi, apa jadinya kalau mereka yang seharusnya memberi contoh yang baik itu malah melakukan hal-hal yang sama sekali nggak pantas untuk ditiru? Haruskah mereka yang diberi contoh tetap menelannya mentah-mentah?
Baiklah, akan saya berikan contoh untuk lebih jelasnya.
Di jurusan tempat saya berkuliah, para dosen sangat disiplin, tepat waktu, berdedikasi tinggi (baca: jarang nggak masuk, nggak masuk pun pasti ada dosen pengganti), dan (sedikit) perfeksionis. Menyadari karakter mereka seperti ini, mahasiswa pun menjadi menuntut diri mereka sendiri untuk lebih disiplin, selalu tepat waktu, selalu mengerjakan tugas, dan sebagainya, dan sebagainya yang disiplin2.
Nah, baru-baru ini kami ikut mata kuliah dari jurusan lain yang dosennya nggak se-strict dosen kami biasanya. Masuk setengah jam setelah bel masuk, tidak memedulikan absen, sehingga mahasiswa jadi doyan nitip absen. Bukannya si dosen ini nggak tau fenomena ini, mereka nggak memedulikannya, loh. Buat mereka nggak masalah hadir beneran atau nitip absen doang. Dan yang paling gokil, tugas bisa ditunda, bo! Bahkan ada temen gw yang belum ngumpulin tugas pertama yang seharusnya udah dikumpulin sejak SEBULAN yang lalu! Kalo ama dosen jurusan sendiri sih nggak ada tuh ceritanya yang kayak begini. Langsung disemprot, iya.
Dari dua contoh di atas terlihat kan bahwa sikap seseorang akan mempengaruhi bagaimana orang lain bersikap pada mereka. Tentunya kita sering mendengar atau bahkan mengucapkan, “Ah, santai aja, paling juga ntar dia telat.” Atau “Ya udah lah, dia juga nyantai aja kok.” Kalau seseorang suka menyepelekan sesuatu, maka orang lain akan balik menyepelekannya.
Tidak ada gading yang tak retak, tidak ada satu pun manusia yang sempurna. Namun seharusnya kalimat ini tidak dijadikan pembenaran atas “kesalahan-kesalahan yang tidak perlu”. Semangat kekeluargaan dan toleransi memang baik, tapi tidak bisa diterapkan di semua bidang, terutama di bidang2 yang menuntut profesionalisme dan tanggung jawab; salah satunya di institusi pendidikan seperti ini. Kalau para pendidik tidak menegakkan disiplin, ya mereka yang dididik akan leha-leha seenak-enak jidatnya aja. Kalau mereka yang dididik ini udah nggak aware lagi, lantas seperti apakah kelakuan mereka nanti saat harus melangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara? Bukannya nggak mungkin Indonesia akan tambah terpuruk karena hal ini, bukan?